Sembilan Belas (A)

Entah kau sadar atau tidak, caraku menarik perhatianmu dengan selalu mengajakmu bicara--untuk hal sekecil apapun, atau caraku berdiri dekat denganmu supaya kau menyadariku, atau mungkin, bagaimana mataku selalu mengikutimu, dan bahwa sosokmu adalah yang paling pertama kucari tiap kali aku memasuki ruangan. Namamu adalah yang paling sering kusebut dalam sehari. Entah kau sadar atau tidak.


Kupikir aku melihatmu melakukan hal yang sama. Kau menatap mataku, kau berdiri dekat denganku, kau duduk menemaniku, kupikir mungkin kau juga berusaha melakukan hal yang sama. Mungkin.

Entah memang benar, atau harapan membuatku delusional.



Either way, I'm not giving up.

Enigma: A

You're enigma, really.



Aku tersenyum, berjalan bolak balik, membantumu ke sana-sini, tetap saja kau acuh tak acuh. Lagakmu seperti kau tak peduli akan dunia di sekelilingmu. Aku pontang-panting juga kau melirik pun tidak. Yang benar sajalah, masa tidak ada satupun usahaku yang kau akui?

Seperti puzzle yang amat sangat rumit. Semakin kumainkan semakin dia bertambah kacau. Polanya tak tertebak dan akhirnya aku hanya bisa berhenti. Meletakannya di lantai dan memandanginya dari kejauhan. Bukan menyerah, hanya memikirkan strategi selanjutnya. Kuberitahu ya, aku bukan tipe yang mudah menyerah.


D.

that quiet place, where our hearts can meet


I love your voice,
I fell in love with your voice first,
just like hundreds of others did, too.

That’s not really very special, I think.

But, you know, I fell in love with the rest of you, too,
so to me it’s alright if you give your voice away to those hundreds or thousands of others.
I know that’s what you want.
Just as long as the rest of you can be mine, can be with me –
–it’s all okay.


(that quiet place, where our hearts can meet by Deplore)

Delapan Belas: H, I, J


Aku suka bagaimana tiap kali kita berpapasan kau akan berpura-pura tidak melihatku, namun kau tetap menjaga jarak untuk memastikann aku melihatmu. Kemudian ketika aku menatapmu, kau hanya balas menatap tanpa mengatakan apa-apa. Baru ketika aku memanggil namamu kau akan mengangkat satu tanganmu dan tersenyum, sedikit. Karena kau kira tipe yang cool begini akan lebih menarik perhatian.

Kubilang, kau terlalu banyak membaca komik.



Aku suka bagaimana kau bicara keras-keras dengan temanmu, tertawa terbahak-bahak karena lelucon yang tidak kumengerti. Namun ketika aku mengetuk pundakmu untuk menanyakan sesuatu, kau akan langsung mengubah nada bicaramu. Kuakui nada-nada lembut dan manis adalah kelemahanku. Dan kau memanfaatkannya.

Curang.



Aku suka melihat jari-jarimu yang cekatan bermain di atas karyamu. Saat kau membentuk musik dengan gitar atau ketika kau sibuk dengan laptop atau handphonemu. Anehkah kalau aku merasa iri pada mainanmu? Karena aku ingin jemarimu itu menggenggam jemariku saja. Jangan dilepas.

Jangan, kubilang.



Aku suka bagaimana meskipun banyolan selalu keluar dari mulutmu, kau bisa menunjukan kedewasaanmu di saat yang tepat. Biasanya cerita-ceritamu konyol, kau sadar tidak? Tapi kemudian kau mengatakan sesuatu tentang kehidupan, di saat kami berkata A, kau akan melihat jauh ke depan dan berkata B. Sisimu yang begini, membuatku ketar-ketir karena, hei, kau luar biasa. Kenapa bisa aku kagum pada sosok paradoks yang begini, entahlah.

Kau kompleks, sih.




Kata orang, 'aku mencintainya karena dia sempurna di mataku'. Konyol, kubilang. Maka nanti saat dia tak lagi sempurna di matamu, kau akan berhenti mencintainya? Biar kubalas dengan mengatakan hei, 'kau terlihat sempurna karena aku menyukaimu'. Karena aku teramat menyukaimu hingga semua hal tentangmu terlihat sempurna di mataku.





Eternally yours, sir.


Tujuh Belas (J)

Seperti melihat gelembung,
dari luar kau mempesona dengan warna.
Satu saja sentuhan jemariku bisa langsung membuatmu pecah,
lenyap seperti kabut pagi.
Jadi terpaksa aku menunggu, melihat, menatap,
warna-warna pelangi yang kau pantulkan.
Cerah dan ceria,
seperti bunga matahari yang baru mekar.
Kali kusentuh kau segera hilang,
tinggalah aku menangisi kepergianmu.
Jadi biarlah aku melihat dari sisi,
sementara kau menarikan warna-warna.

enam belas (J)

Senja enggan datang,

katanya karena kau larang.

Kenapa?
Padahal kau menolak berbagi surya,
awan kau ambil dalam kuasa.
Namun tetap tak kau izinkan mendarat, sang senja.

Aku enggan berbagi,
kukatakan itu padamu lagi.
Seolah tak mendengar kau pergi,
meninggalkan harapan dalam untaian pelangi.

Senja enggan datang,
kuakui aku yang membiarkannya mengambang.
Karena pelangimu belum hilang.
Dan sampai suatu saat nanti warnanya berkurang,
aku akan terus berharap kau datang.

Lima Belas (J)


Terkadang kau seperti mimpi, seakan ketika jemariku menyentuhmu kau akan lenyap menjadi kabut. Rapuh dan teramat indah. Mungkinkah kau malaikat?

Suaramu seperti nyanyian siren, terus memanggilku meskipun aku menjauh pergi. Terus menerus menarikku ke dalam buaian ombak. Kapalku karam tersapu, namun yang kupikirkan hanyalah dimana asal suara itu? Yang secantik satin hitam, yang membuatku berpikir bahwa mungkin, mungkin aku sudah berada di surga.

Kau tidak selalu bernyanyi, namun tiap kata yang terucap seperti bait-bait lagu. Karena kau bercerita tentang kehidupan. Bulan sabit yang muncul kerap kali kau tersenyum bercerita tentang kebahagiaan, tangan yang bergerak-gerak saat kau tertawa bercerita tentang kekuatan, dan mata yang menatapku saat kau membisu bercerita tentang...


...cinta.





Mungkin itu matamu, mungkin itu senyummu, atau mungkin suaramu, atau mungkin tekadmu, atau kepercayaan dirimu, mungkin juga itu karena kau berbeda.


Ini rahasia kecilku, tapi,
aku sungguh-sungguh ketika mengatakan kau satu-satunya.





...

Fourteen (J)

I never thought about doing something to please others. I love myself so damn much until I don't really care whether I please someone or not.


But you are different.

The first time I saw the real you, I was enthralled. You seemed like a far fetched dream... but I know you're real. Because there's no dream can make me laugh, make me smile, make me cry, like you do.

You have no wings, but a pair will look good on you. You are ethereal, like a fragment of my imaginations. But I know you're real. You must be real, because if you're not, then my feeling is a dream as well.


I might not in love with you, but I do love you. As cheesy as it sounds, I do. There is nothing I won't do to keep you happy, there is nothing I won't do to make you smile.

It is surreal, it does feel like a dream.



But no matter what, you're real. And so is this love.



Tiga Belas

Seperti awal sebuah film,

adegan pembuka di mana mata pertama bertemu.
Cameo di belakang berdengung;
dan perlahan musik mengalun.
Dan satu kata dalam pikiran hanyalah,

takdir.


Oh, klise.
Memang.
Tapi semua orang ingin memiliki dongengnya sendiri.
Dan yah, apa boleh buat.

Seperti kisah lain,
semua berjalan sempurna pada awalnya.
Seperti kisah lain,
semua mendadak luruh.
Dan ide untuk memperbaiki urung muncul.

Seharusnya epilog dari kisah ini juga sesuai skenario.

Happily ever after,
katanya.

Sang naga perkasa mati,
penyihir hitam pupus,
ibu tiri mendapat hukuman setimpal,
saingan licik menerima ganjaran,
kemudian pangeran dan putri hidup bahagia selamanya.
The end.

Jika ini sebuah dongeng,
akhirnya juga akan begitu.
Tapi 'bahagia selamanya' tidak ada dalam kenyataan.
Sekeras apapun kau berharap,
sekeras apapun kau memohon.



Karena jika ini dongeng,
kau akan ada di sini.


Just another wide-eyed girl



Help but wish I could see your face
And I knew from the first song played
I'd be breaking all my rules to see you
You smile that beautiful smile and
All the girls in the front row scream your name

So dim that spotlight, tell me things like
I can't take my eyes off of you
I'm no one special, just another
Wide eyed girl who's desperately in love with you

(Superstar - Taylor Swift)