Tiga Belas

Seperti awal sebuah film,

adegan pembuka di mana mata pertama bertemu.
Cameo di belakang berdengung;
dan perlahan musik mengalun.
Dan satu kata dalam pikiran hanyalah,

takdir.


Oh, klise.
Memang.
Tapi semua orang ingin memiliki dongengnya sendiri.
Dan yah, apa boleh buat.

Seperti kisah lain,
semua berjalan sempurna pada awalnya.
Seperti kisah lain,
semua mendadak luruh.
Dan ide untuk memperbaiki urung muncul.

Seharusnya epilog dari kisah ini juga sesuai skenario.

Happily ever after,
katanya.

Sang naga perkasa mati,
penyihir hitam pupus,
ibu tiri mendapat hukuman setimpal,
saingan licik menerima ganjaran,
kemudian pangeran dan putri hidup bahagia selamanya.
The end.

Jika ini sebuah dongeng,
akhirnya juga akan begitu.
Tapi 'bahagia selamanya' tidak ada dalam kenyataan.
Sekeras apapun kau berharap,
sekeras apapun kau memohon.



Karena jika ini dongeng,
kau akan ada di sini.


Leave a Reply