Fotomu masih tersimpan dalam memori komputerku, sama seperti bayanganmu masih tersimpan dalam memoriku. Proses rekursif harusnya dimulai dengan menentukan basis; tapi aku tak pernah mengidahkan teori. Mungkin seharusnya aku mengikuti kata diktat. Mungkin bila aku memiliki basis, proses rekursif ini akan berhenti dengan sendirinya. Namun sekarang dalam memoriku hanya kamu, kamu, kamu, kamu saja, dan berulang dari awal lagi saja.
Ingat tiap usahaku untuk mengajakmu menjelajah bumi? Tiap kali juga kau mengatakan bahwa tidak ada tempat yang lebih baik daripada tanah tempatmu berpijak, tiap kali itu juga aku mengatakan (mengandaikan) lain kali. Tapi aku tidak akan ada untuk selamanya, kubilang. Kau masih diam di tempat.
Dengar-dengar kau teguh bak pagar,
baja tebal yang tak mudah dipugar,
apalagi diganjar.
Kata orang, Tuan, kau semurni air suling,
ada keruh tak tersanding,
selalu mudah mengaliri laring.
Kata mereka, kau ini pelipur lara.
Dalam hitungan satu-dua bisa membuat tawa.
Apa kau nirvana atau sekedar huru hara?
Kata temanku, Tuan, kau ini jelmaan Ares si dewa perang.
Adakah tempat di mana kau tak jadi pemenang?
Aku tak tahu, tapi kau terlihat garang.
Tapi yang penting ini kataku, Tuan.
Kau mengganggu seperti ilalang,
sulit dibasmi dalam bimbang.
Bukan panglima tapi serdadu di garis depan,
berani mati namun dermawan
He’ll never fall in love he swears
As he runs his fingers through his hair
I’m laughing cause I hope he's wrong
He sees everything black and white
Never let nobody see him cry
I don’t let nobody see me wishing he was mine
And if you asked me if I love him,
I’d lie
(I'd Lie - Taylor Swift)
Ini sedikit cerita yang sebenarnya ingin kukubur dalam-dalam. Tapi kau tahu, mereka bilang penderitaan itu akan berkurang setengahnya jika diceritakan, sedangkan bahagia justru akan berlipat ganda. Walaupun sebenarnya aku nggak tahu apa ini termasuk penderitaan atau bahagia.
Kau ingat Indira, pernah kau bilang bahwa kau takkan pernah jatuh. Semua orang tahu bahwa sayapmu yang terbaik, tak pernah gagal membuatmu naik. Kau ingat Indira, pemandangan yang kau lihat tak pernah kau bagi pada orang lain, tidak pernah ada orang yang bisa menjangkau ketinggianmu.
Lalu kau melepas sayapmu tanpa sadar, tergoda iming-iming karpet terbang yang bisa membawamu terbang tanpa usaha. Seperti layaknya pelaut yang tersihir nyanyian siren saja. Saat sihirnya habis dan karpet ajaib berubah menjadi sepotong kain, apa yang bisa kau lakukan untuk melawan gravitasi?
Tapi tak perlu ragu lagi, Indira, kukembalikan sayapmu agar kau bisa kembali ke tempatmu berasal. Dan kali ini mungkin kau akan sadar bahwa semua orang akan memberikanmu harapan tanpa pernah bisa mempertanggungjawabkannya.
Ironis betul kisahmu, Indira, meski pun dalam hati kau tahu betul kau layak mendapatkannya. Kau bisa memaksa untuk tersenyum sekarang, mendendam dalam hati, tapi sampai kapan kamu bisa bertahan? Kamu itu sulit memaafkan, aku yang paling tahu hal itu. Istilah 'forgotten but not forgiven' diciptakan untukmu. Jangan menangis ketika semuanya sudah direnggut darimu.
Hei Indira, ingat tidak ketika kau melambung begitu tinggi di awan? Tak pernah kau berikan perhatianmu pada mereka yang berjalan di atas bumi. Kau penguasa yang tinggal di awan, mahluk bumi hanya satu dari sekian banyak entitas dalam hidupmu. Tapi apa yang kau lakukan kini, merangkak dan setengah mati meminta perhatian mereka yang dulu kau pandang sebelah mata.
Mahkotamu boleh hilang tapi sejak kapan harga dirimu ikut lebur?